Foto : Pelabuhan Belawan, Sumatera Utara
Belawan, 11 Maret 2026 – Laporan APBN Kita Desember 2025 yang dirilis pada 26 Januari lalu mencatat prestasi fiskal yang mencolok. Penerimaan kepabeanan dan cukai di Provinsi Sumatera Utara mencapai Rp3,50 triliun atau 193,52 persen dari target APBN. Kanwil DJBC Provinsi Sumatera Utara, dengan Bea Cukai Belawan sebagai ujung tombaknya, berhasil mengumpulkan hampir dua kali lipat dari target yang ditetapkan negara. Pencapaian ini disampaikan lewat siaran pers APBN Kita Desember 2025.
Kepala Kantor Bea Cukai Belawan, Agus Sujendro, menyatakan bahwa capaian ini merupakan buah dari kerja keras seluruh jajaran. Ia menegaskan bahwa Bea Cukai Belawan tidak hanya berperan sebagai pemungut penerimaan negara, tetapi juga sebagai fasilitator kelancaran arus perdagangan di wilayah Sumatera Utara.
“Capaian ini tidak lepas dari komitmen kami dalam memberikan pelayanan yang cepat dan pengawasan yang ketat. Kami ingin memastikan setiap kegiatan ekspor dan impor yang melalui Belawan berjalan lancar, sekaligus memberi kontribusi optimal bagi penerimaan negara,” ungkap Agus Sujendro, Kepala Kantor Bea Cukai Belawan.
Komponen terbesar penerimaan datang dari Bea Keluar. Realisasinya mencapai Rp2,29 triliun atau 592,07 persen dari target. Lonjakan ini dipicu oleh kenaikan harga referensi Crude Palm Oil (CPO) global yang menyentuh USD 926,14 per metrik ton pada Desember 2025, lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Sumatera Utara merupakan salah satu sentra perkebunan sawit terbesar di Indonesia. Setiap hari, CPO dan produk turunannya seperti olein dan stearin diangkut dari pabrik pengolahan menuju kapal kargo di Pelabuhan Belawan. Komoditas itu kemudian berlayar ke pasar India, Tiongkok, Pakistan, dan Eropa. Setiap ton yang melewati loket kepabeanan Belawan menghasilkan Bea Keluar yang langsung masuk ke kas negara.
“Pelabuhan Belawan adalah pintu utama ekspor komoditas Sumatera Utara. Ketika harga CPO global naik signifikan, dampaknya langsung terasa pada penerimaan Bea Keluar kami. Ini menunjukkan betapa eratnya hubungan antara kinerja sektor perkebunan dengan penerimaan negara dari kepabeanan,” tambah Agus Sujendro.
Sementara itu, realisasi Bea Masuk tercatat sebesar Rp654,76 miliar, lebih rendah dibanding tahun sebelumnya. Penurunan ini bukan cerminan lesunya aktivitas impor. Penyebabnya adalah kebijakan pemerintah yang memangkas tarif bea masuk untuk komoditas kebutuhan pokok, khususnya beras dan gula. Bea Cukai Belawan menjadi pelaksana kebijakan tersebut di lapangan, memastikan impor pangan berjalan lancar.
Dari sisi cukai, penerimaan di Sumatera Utara mencapai Rp565,95 miliar atau 101,76 persen dari target APBN. Meski target terlampaui, ada tekanan yang patut dicermati. Penerimaan Cukai Hasil Tembakau turun 29 persen akibat penurunan produksi dan permintaan pasar. Cukai Minuman Mengandung Etil Alkohol juga merosot 20 persen. Kedua
penurunan itu mencerminkan perubahan pola konsumsi masyarakat terhadap barang kena cukai.
Capaian kepabeanan dan cukai ini merupakan bagian dari gambaran fiskal Sumatera Utara yang lebih luas. Penerimaan pajak di provinsi ini mencapai Rp25,4 triliun sepanjang 2025. Transfer ke Daerah tersalurkan sebesar Rp42,50 triliun atau 96,92 persen dari pagu. Di sisi pembiayaan produktif, Kredit Usaha Rakyat senilai Rp14,74 triliun mengalir ke 248.587 pelaku UMKM. Sektor pertanian, perburuan, dan kehutanan menjadi penerima terbesar, yakni Rp7,14 triliun kepada 127.481 debitur.
Rantai nilai ini saling terhubung secara langsung. Petani sawit di Labuhanbatu atau Asahan mengakses KUR untuk membeli pupuk dan merawat kebun. Hasil panen mereka diolah menjadi CPO, lalu dikirim ke tangki penampungan di kawasan industri sekitar Belawan. Kapal tanker mengangkutnya ke luar negeri. Di titik itulah Bea Cukai Belawan bekerja: mencatat, memeriksa, dan memungut. Penerimaan dari proses itu kemudian kembali ke masyarakat melalui belanja pemerintah dan Dana Desa.
Agus Sujendro menyebut tantangan ke depan tetap perlu diantisipasi. Ketergantungan pada satu komoditas ekspor utama masih menjadi kerentanan struktural yang harus diwaspadai. “Kami sadar bahwa penerimaan kami sangat dipengaruhi oleh harga CPO global. Karena itu, kami terus mendorong percepatan layanan kepabeanan berbasis digital dan memperkuat pengawasan agar basis penerimaan kami semakin kuat dan tidak mudah tergoyahkan oleh fluktuasi harga komoditas.”
Tahun 2025 telah memberikan bukti nyata. Bea Cukai Belawan bukan sekadar petugas pemeriksa peti kemas di dermaga. Mereka adalah salah satu mesin penerimaan negara yang menggerakkan perekonomian Sumatera Utara. Lewat kerja di balik setiap dokumen ekspor-impor, kontribusi itu telah terbukti.
Berita Terbaru Lainnya
Bea Cukai Belawan Siap Kawal Kelancaran Ekspor-Impor Selama Libur Hari Raya Nyepi dan Lebaran 2026
Foto : Kakanwil BC Sumut dan Kepala Kantor BC Belawan...
Baca selengkapnyaLampaui Target APBN, Kontribusi Bea Cukai Jadi Penopang Perekonomian Sumatera Utara
Foto : Pelabuhan Belawan, Sumatera Utara Belawan, 11 Maret 2026...
Baca selengkapnyaSTOP, CEK, LAPOR! Seruan Bea Cukai Belawan Hadapi Maraknya Penipuan Jelang Hari Raya
Foto : Stop, Cek, Lapor! Maraknya Penipuan Jelang Hari Raya...
Baca selengkapnyaPesan Perdana Agus Sujendro, Disiplin Integritas dan Dorong Inovasi Kerja
Foto : Kepala Kantor BC Belawan Bapak Agus Sujendro Memberikan...
Baca selengkapnya
